Minggu, 15 Maret 2015

Helicopter Mom, Apa itu ?

Sahabat Cookies


Bagi Bunda yang selalu menempel anaknya kemana-mana, buntutin anak dengan alasan takut jatuh, takut ia mendapat kesulitan dan butuh bantuan, hati-hati lho…jangan-jangan Bunda termasuk ke dalam golongan Si Helicopter Mom ini. Helicopter mom ditujukan pada para ibu yang pola asuhnya seperti helikopter berputar-putar mengelilingi, mengamati, mengawasi, dan selalu siap mendarat di mana saja saat Si kecil memerlukan.

Bunda yang dijuluki Helicopter mom senantiasa mengawasi gerak-gerik si kecil dan siap siaga membantu saat ia membutuhkan bantuan. Namun, saking siap siaganya, ia menjadi terlalu sering turut campur terhadap segala kegiatan anaknya. Apa yang menyebabkan seorang Bunda bisa menjadi Helicopter Mom ?

Pertama, obsesi Si Bunda yang ingin memenuhi perannya sebagai Bunda yang sempurna, ingin memberikan semua yang terbaik untuk anaknya, ingin memastikan bahwa anaknya aman tanpa kesulitan apapun, ingin anaknya tetap aman tanpa jatuh/cedera. Namun caranya yang berlebihan, yang jadi salah kaprah. Kedua, Si Bunda hanya memiliki satu dunia yaitu Si kecil, ia tak memiliki kegiatan lain atau  minat lain sehingga menyibukkan diri dengan menempeli anaknya terus-menerus.
Dampak negatif nya apa? Untuk bunda, Bunda akan merasa sangat lelah baik fisik maupun emosi karena terlalu terobsesi dengan keberadaan dan keselamatan Si kecil. 
Untuk Si kecil, ia akan menjadi anak yang tidak mandiri karena melulu tergantung pada bundanya secara fisik, emosi, dan sosial. Si kecil juga bisa merasa tak nyaman karena malu diolok-olok oleh temannya, bahkan mungkin dijuluki “Anak Mami” karena terus-terusan diikuti Bundanya.    
Berikan kepercayaan pada Si Kecil, itu cara yang paling tepat untuk menghapus julukan Helicopter Mom. Kesulitan dan sedikit cedera adalah bagian dari proses belajarnya, tak perlu takut ya Bun.

Referensi: http://www.ayahbunda.co.id/

Baca juga artikel lainya.. Sahabat Cookies

Kamis, 12 Maret 2015

Sukses Menyapih Si Kecil

Sahabat Cookies



Si Kecil kini berulang tahun yang ke-2, rasa bangga dan bahagia tentu menyelimuti perasaan Bunda dan semua anggota keluarga karena melihatnya sehat dan tambah besar. Namun tak hanya itu, di usia 2 ini ada tantangan besar yang harus dihadapi yaitu masa-masa menyapih Si Kecil. Tentu bukan hal yang mudah merubah satu kebiasaan yang baginya sangat nyaman dan menyenangkan, jangan khawatir Bunda ada beberapa tips yang dapat Bunda coba praktekan agar acara menyapih Si Kecil berjalan sukses. 
  1. Perhatikan kondisi fisik dan psikologis Si Kecil. Tunda dulu acara menyapih jika Si kecil sedang dalam keadaan tidak nyaman baik secara fisik maupun psikologis misal ia sedang sakit atau sedang mencoba adaptasi dengan pengasuh baru. Jangan sampai acara menyapih membuat Si Kecil merasa ditolak dan menjadi lebih tertekan.
  2. Lakukan dengan perlahan. Bunda dapat mulai menyapih dengan mengurangi frekuensi menyusu Si Kecil. Jika biasanya ia menyusu sampai 4 kali dalam sehari, secara perlahan ubah menjadi 3 kali sehari, 2 hari sekali, sampai akhirnya ia dapat berhenti sama sekali.
  3. Bicarakan pada Si Kecil mengenai keinginan menyapih, tentunya dengan bahasa Si kecil yang mudah difahami, misal “Kak, minum susu nya kita ganti jus yuk..enak lhoo”. Penting pula untuk Bunda memberikan pengertian yang logis mengapa ia harus berhenti menyusu. Misal, karena ia sekarang sudah besar,,sudah berusia 2 tahun, sudah mau masuk preschool, atau karena ia sudah pintar makan buah dan sayur jadi ia harus berhenti minum ASI.
  4. Alihkan perhatiannya. Buat Si Kecil sibuk dengan hal-hal yang menyenangkan baginya misal permainan-permainan yang seru, buku cerita favoritnya yang full color dan gambar, atau hobi nya menari. Intinya lakukan aktivitas menyenangkan bersamanya agar ia tahu bahwa meski tanpa ASI ia tetap dicintai.
  5. Berikan ia tauladan lewat buku cerita atau lingkungan sosial mengenai kemandirian dan kehebatan tokoh yang tidak lagi menyusu pada ibu nya. Misal ia suka akan tokoh Elsa di film Frozen, katakan padanya “Elsa itu hebat ya Kak..dia bisa begitu soalnya suka makan sayur dan buah, suka nurut kata-kata Bundanya, dan dia juga udah ga minum ASI lagi lhoo, Kakak mau jadi kyak Elsa kan?
  6. Untuk menghilangkan kebiasaan menyusu sebelum tidur, Bunda sebaiknya menggantinya dengan rutinitas lain yang menyenangkan baginya. Misal, membacakan dongeng pengantar tidur sambil mengusap-usap punggungnya.
  7. Jika Si Kecil terbangun malam hari dan ingin menyusu, mintalah bantuan ayahnya untuk bangun dan memberikan air putih atau susu dalam training cup dan mengajaknya tidur kembali dengan digendong dan diiringi nyanyian. Jika tetap Bunda yang menghampiri biasanya ia akan merengek minta ASI.

Selasa, 10 Maret 2015

Si Kecil Suka Mengigit

Sahabat Cookies


Bunda, di usia Si kecil yang menginjak 6 bulan ia sering merasa tidak nyaman dengan gusi nya, ini ada hubungannya dengan mulai tumbuhnya gigi susu. Ia jadi senang sekali main gigit-gigit, apapun itu! Baju yang dipakainya, mainannya, bahkan jari Bunda yang bersiap membelai malah digigitnya. Nah, kalau sudah begini bagaimana yaa cara mengatasinya? Bagaimana agar ia tetap nyaman dalam proses tumbuh gigi ini ?

Berikut dipaparkan beberapa trik agar Si Kecil tetap aman dan nyaman dalam hobby baru nya gigit-mengigit. Happy reading, semoga bermanfaat.
  1. Berikan roti bagel beku. Tekstur roti bagel yang keras ternyata akan sangat mudah melunak ketika basah terkena air liur si kecil. Bekukan roti di dalam freezer dan sensasi dinginnya akan membantu gusi Si kecil lebih nyaman saat ia mengigit nya.
  2. Variasikan gigitan dengan waslap dan teh chamomile. Caranya: Celupkan waslap kecil ke dalam teh chamomile, masukkan ke freezer hingga kaku. Tehh chamomile membantu mengurangi rasa tak nyaman pada gusi Si Kecil yang bengkak, sementara paduan tekstur kain waslap yang lembut dan rasa dingin membuat gusi mati rasa untuk sementara.
  3. Waslap dan Es batu. Bunda juga sesekali boleh memvariasikan gigitan Si Kecil dengan memasukkan potongan es batu ke dalam waslap, ikat ujung waslap agar potongan es batu tak jatuh saat Si Kecil menggigitnya. Biarkan Si Kecil mengunyak-ngunyah es batu tersebut.
  4. Potongan Buah dan Mesh Feeder. Masukkan potongan buah (boleh buah segar ataupun buah beku) ke dalam mesh feeder, teether berjaring yang  biasa diisi makanan. Biarkan Si kecil mengunyah buah atau sayur dalam mesh feeder tersebut, hal tersebut akan membuat gusi nya merasa lebih nyaman.
  5. Wortel dingin. Sesekali berikan Si kecil wortel dingin utuh, hindari memberikan yang sudah dipotong ya Bun untuk menghindari Si kecil tersedak.
  6. Sendok dingin. Sendok yang sebelumnya sudah didinginkan di dalam kulkas atau freezer juga bisa menjadi variasi gigitan untuk Si Kecil. Penting untuk diingat, berilah Si Kecil sendok yang pegangannya tidak terlalu panjang agar tidak merogok ke tenggorokannya. 
Referensi: http://www.parenting.co.id/